KATA PENGANTAR
Segalah puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kuasa sehingga saya bisa susunan makalah ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. saya juga berterima kasih kepada setiap pihak yang telah terlibat dan membantu kami dalam penyusunan makalah ini .
Makalah untuk Mata Kuliah sistem sosial badaya indonesia kali ini mengangkat topik mengenai budaya masyarakat suku yali.Dalam kesempatan ini menganalisa tentang budaya masyarakat suku yali. Makalah ini saya susun sedemikian rupa dengan mencari dan menggabungkan sejumlah informasi yang saya dapatkan baik melalui buku, media,cetak,elektronik maupun media lainnya. saya berharap dengan informasi yang dapat dan kemudian saya sajikan ini dapat memberikan penjelasan yang cukup tentang budaya masyarakat suku yali.
Demikian satu dua kata yang bisa saya sampaikan kepada seluruh pembaca makalah ini.Jika ada kesalahan baik dalam penulisan maupun kutipan,saya terlebih dahulu memohon maaf dan saya juga berharap semua pihak dapat memakluminya. Semoga semua pihak dapat menikmati dan mengambil esensi dari makalah ini.Terima kasih.
Penyusun
manas mabel
BUDAYA MASYARAKAT SUKU YALI
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Yali atau Yalimo memiliki banyak arti yaitu “Yali” yang berarti tempat matahari terbit (timur), nama bahasa yang digunakan oleh masayarakat Yali, dan nama suatu suku atau masayarakat yang mendiami di daerah timur dari kota Wamena. Kemudian “mo” dari morfem “mu” menunjukan tempat, bukan “mo” berarti “matahari” seperti yang dikenal oleh banyak orang. Jadi secara harfiah, Yalimo adalah nama salah satu kelompok Masyarakat atau suku yang mendiami di daerah yang dianggap paling timur dari pulau Papua ini, nama bahasa yang gunakan oleh orang Yali sebgai alat komunikasi mereka, dan nama tempat di mana matahari itu terbit . Nama Yali atau Yalimo tidak diberi nama setelah masyarakat Yali mengenal Injil namun nama ini sudah ada dari nenek moyang orang Yali yang memilih dan menempati daerah Yali sebagai daerah mereka. Jika anda mewawancarai salah satu orang Yali yang memiliki sejarah lengkap, dia tentunya akan menjelaskan semua sejarah Yali yang perlu diketahui oleh orang banyak.
Yali atau Kabupaten Yalimo merupakan pemekaran baru dari kabupaten Jayawijaya pada tahun 2008 lalu berdasarkan Otsus Papua 2001. Letak geografis dan jumlah penduduk yang dimiliki oleh suku Yali tidak kalah dengan Kabupaten lain di Papua. Umumnya Suku Yali bermukim di dataran tinggi ± 3000m diatas permukaan laut yaitu, di pegunungan Provinsi Papua. Masyarakat Yali bermukim di bawah kaki gunung atau di atas puncak besar dan di pinggiran sungai-sungai yang besar. Walaupun daerah yang dipikir tidak menguntungkan, namun dibalik pandangan itu memiliki rahasia yang sangat misterius. Dari tanah yang kaya dan melimpah yang diberikan oleh sang pencipta, segala sesuatu yang menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat, alam telah menyediakannya karena keakraban masyarakat terhadap dunia atau alam dimana mereka hidup. “Kinangma Puhula roho winak humuk” (lihat ke dalam tanah setelah anda menggali tanah) adalah sebuah kalimat yang mengandung motivasi kepada setiap orang Yali, karena segala berkat yang kita butuhkan ada di bumi, bukan di langit. Tangan untuk bekerja dan semua yang dibutuhkan akan datang dari hasil usaha manusia. Kemudian, “kinang fanoma ap inggik fano halug, uhe mel umalikisi mel, anggom mel inahap fanoreg” (tanah yang subur, orang yang rajin bekerja maka istri, anak-anak dan hewan biaraan terlihat sehat). Kalimat sederhana ini merupakan suatu hadiah yang pernah ditinggalkan oleh nenek moyang orang Yali bahwa laki-laki sebagai keluarga wajib berdiri ditengah-tengah keluarga untuk memberi jaminan dalam hidup.
KabupatenYalimo terletak di bagian barat dari kabupaten Yahukimo dan suku Meek, bagian utara dari kabupaten Jayawijaya, bagian timur dari kabupaten Mamberamo Tengah dan bagian Selatan dari Propinsi Papua. Luas wilayah Yalimo berdasarkan data Dinas Kependudukan pada tahun 2008 mencapai 34.057jiwa dengan luas wilayah 1.253 km².
Yalimo sebenarnya memiliki luas wilayah yang besar dengan jumlah penduduk begitu banyak namun Yalimu telah dibagi ke dalam dua kabupaten yaitu Kabupaten Yalimo dan Yahukimo. Masyarakat Yalipun ikut berpisah dari kelompok Yali besar yaitu Yali dan Yali Meek. Yali Apahapsili, Yali Abenaho, Yali Gilika dan Yali yang terdekat dengan daerah tersebut masuk ke Kabuapten Yalimo sedangkan Yali Angguruk, Yali Ninia dan Yali Meek masuk ke Kabuapten Yahukimo.
Yali memiliki dua bahasa yaitu bahasa Yali dan bahasa Meek. Penutur bahasa Yali adalah Yali Angguruk, Yali Apahapsili, Yali Abenaho dan Yali Ninia. Mereka menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Yali namun memiliki banyak variasi bahasa atau sering disebut dengan dialek. Tetapi Yali Gilika dan Yali Meek memiliki bahasa Meek yang sangat perbeda dengan bahasa Yali. Benar seperti yang ditulis oleh linguist Yali, Christian Walianggen dalam Skripsinya bahwa “Orang Yali adalah multilingual karena orang Yali dapat mengunakan beberapa bahasa terutama bahasa-bahasa tetangga seperti bahasa Yali, Meek, Dani dan Lani”. Selain itu hampir seluruh orang Yali dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan Budaya suku yali?
2. Apa saja yang dimiliki dalam masyarakat suku yali ?
3. bagaimana mata pencaharian dalam masyarakat suku yali?
C. Tujuan Masalah
Tujuan dari masalah yaitu untuk mengetahui, memahami,dan bisa kita implementasikan apa yang dinamakan dengan budaya suku yali, cara hidup masyarakat yali dan serta bagaimana dalam mata pencaharianya di kalangan masyarakat tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Budaya Masyarakat Suku Yali.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.Demikian pula di indonesia memiliki suku yang terkecil disebut dengan suku yali,dan suku tersebut memiliki dua kabupaten yaitu kab Yalimo dan kabupaten Yahukimo.
suku Yali adalah, suku yang tidak begitu terkenal dari berbagai suku di indonesia. namun, suku Yali ini mempunyai banyak keunikan dari sisi kehidupan berbudaya.
Kepercayaan mereka tentang asal usul manusia di suku Yali?
Dulu suku Yali menganggap bahwa, mereka adalah tidak diciptakan oleh siapapun tetapi mereka jadi dari binatang, batu, ular, burung dan makhluk lainnya, oleh sebab itu mereka sengaja menajiskan segala binatang. kemudian mereka menceritakan ketururnan mereka turun temurun.
Penyembahan mereka dulu.
mereka sangat percaya dengan benda atau makhluk hidup lainnya, yang disebut dengan (Kembu), kembu adalah penyembahan mereka yang sangat percaya sebagi Tuhan mereka, jika mereka sakit mereka persembahan kepada kembu tersebut, persembahan adalah babi (wam) langsung disembeli lalu serahkan kepada kepala suku (yuwa enap). babi tersebut tidak boleh disentuh oleh kaum wanita (homi, hweap).
Yuwa adalah rumah adat laki-laki dikhususkan buat laki-laki dan Kembu mereka.
Kepercayaan mereka tentang Kembu.
Kembu mereka menganggapsebagai:
1. penyelamat (let nenepuk on), kata ini adalah penyelamat dalam segala hal, contohnya beri kekuatan dalam perang, untuk terbang, untuk memberi kesuburan dll
2. kekuatan (nenomamne ap angge), kekuatan dalam segala hal, contohnya dalam bekerja kebun, maju dalam perang.
3. sumber berkat (ok nesauk on), kasih.
4. menjaga musuh (aho angge)
Kenapa suku Yali sangat percaya kepada Kembu?
Kembu adalah penyembahan mereka yang sangat nyata jika mereka perang mereka memakai kekuatan Kembu, dan Kembu selalu menyatakan dirinya sesuai dengan kepercayaan mereka, jika ada yang percaya kepada ular, ular itu benar-benar nayata. jika ada yang percaya kepada kelelawar, kelelawar itulah yang. namun kenyataan adalah hanyalah si lusifer yang menguasai hidup mereka. ebny
B.Kekayaan Masyarakat Suku Yali
Suku Yali yang letaknya Membentang di antara lekukan-lekukan Pegunungan Tengah Jayawijaya Di lembah inilah, masyarakat Suku yali hidup harmonis dan menyatu dalam pelukan pegunungan yang mengelilingnya serta alam Papua yang indah menawan. Disinilah masyarakat menemukan dan melihat serta menikmati akan budaya, adat dan apa saja yang berkenaan dengan suku yali di Papua.
Banyak budaya dan adat istiadat masyarakat suku yali yang sangat mereka pegang teguh serta akan berlanjut turun-temurun hingga cucu cicit mereka. Inilah yang menjadi ciri khas suatu budaya terutama pada suku yali. Beberapa kekayaan kebudayaan, adat dan serba-serbi masyarakat suku yali yang akan dibahas.
Mengenal arsitektur rumah adat suku yali
Masyarakat yang tinggal di pulau kepala burung ujung Timur Indonesia, papua terbagi menjadi beberapa suku. Diataranya adalah suku Yali. Mereka yang biasanya tinggal di bangunan rumah yang dinamakan Honai. Ciri utama dari bangunan ini adalah dibuat menggunakan bahan dari kayu dan dikombinasi dengan atap dari rumput jerami atau alang-alang yang telah dikeringkan.
Bentuk bangunannya adalah bundar dan bagian atapnya lancip sehingga punya tampilan seperti kerucut. Bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak mengenai dinding ketika hujan turun.
Atap honai terbuat dari susunan lingkaran-lingkaran besar yang terbuat dari kayu buah sedang yang dibakar di tanah dan diikat menjadi satu di bagian atas sehingga membentuk dome.
Kesenian masyarakat suku yali
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks. Kabupaten yalimo memiliki topografi yang sangat luas shingga ada terbagi kebudayaan aksesories yaitu distrik Welarek, Apahabsili, Benawa dan Abenaho.
tarian adat masing-masing distrik dengan lirik lagu yang berbeda ini satu hal potensi wisata budaya. Jika hal ini tidak dilestarikan pasti akan hilang budaya aslinya ini salah satu indicator permasalahan perubahan budaya.
Seni dan budaya Yali saat ini masih terlihat di masyarakat karena orang Yali memandang seni dan budaya merupakan suatu kekayaan atau aset yang nilainya sangat tinggi dan merawatnya sebagai warisan nenek moyang di masyarakat sampai saat ini. Orang Yali menari biasanya setelah memakai hiasan dari arang atau tanah liat di seluruh tubuh. Selain itu, memakai koteka bagi pria dan kem (rok tradisional) bagi wanita adalah sebagai alat menari. Sue Eruk (bulu burung), Huhubi Eruk (bulu Kaswari) dan Pak Eruk (bulu Kus-kus) juga digunakan dalam acara atau pesta menari. Mereka mengikat bulu-bulu itu di kepala, tangan, leher, dan bulu kus Koluang (Tupai) di pucuk koteka yang dikenakan oleh seorang pria.
Lagu daerah (ebedi)
Lagu asli daerah Adalah lagu yang dinyanyiakan oleh tua-tua sebagai penyanyi dan penari dalam kelompok besar ikut menyanyi sambil berputar dan menari. Semua lagu Eberi yang dinyanyikan adalah tentang keperuntungan, kegagalan, harapan atau keinginan, kematian, perkawinan atau pernikahan dan peperangan. Penyanyi sengaja menyanyikan lagu-lagu yang dianggap sedih pada pagi hari sebelum matahari terbit. Ketika mereka sedang menyanyi lagu-lagu tersebut tangisanpun ikut bercucuran. Penari ikut menangis karena sedihnya lagu yang dinyayikan oleh tua-tua Yali.
Cara Dangsa atau menari suku yali
Dapat dinyanyikan pada pesta atau upacara namun jarang ditampilkan diluar rumah. Suleng dinyanyikan dalam posisi duduk dalam suatu rumah (olangko ti) dan Sulengpun dinyanyikan oleh satu orang atau lebih ketika menyendiri. Biasanya seorang penyanyi sengaja menyanyikan lagu Seleng dengan suara yang sedih untuk menciptakan suara lain. Jika suasana sudah lain lagu berikutnya dinyanyikan disertai dengan tangisan. Umumnya Suleng dinyanyikan untuk, kegagalan, harapan atau keinginan, kematian, perkawinan. Suleng dilarang untuk dinyanyikan pada pagi hari atau saat cuaca mendung karena apabila dinyanyikan baik sengaja maupun tidak sengaja pasti hujan turun.
C. Mata Pencaharian Dalam Masyarakat Suku Yali?
Mata pencaharian adalah suatu hal atau kebiasaan yang dimiliki oleh suku,bahasa, /adat-istiadat tertentu meliputi harta kekayan alam setempat dan serta di lestarikannya.Namun di suku yalipun memiliki kebiasaan yang begitu luar biasa yaitu sebagai berikut:
Aktivitas(tindakan),
masyarakat Yali pada khususnya Aktivitas dilakukan baik itu berkebun/ bercocok tanam,dan beternak, maupun berburu berkelompok lebih dari 5 sedangkan orang yang menggap sendiri mampu biasa pekerja individual tidak minta bantuan sama siapa-siapa hanya mengandalkan tenaga sendiri. Contohnya jika berkebun mengundang semua satu kampung atau organisasi pemuda, persekutuan wanita (PW), organisasi gereja atau jemaat dan lainnya.sifat ini sudah sejak lama ditanamkan oleh nenek moyang dan secara turun-temurun mentransfer ilmunya kepada yang lain hingga banyak yang berhasil.
Sistem mata pencaharian
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:
Berburu dan meramu
Beternak
Bercocok tanam di ladang
Menangkap ikan
Kelompok Etnik Terdekat
Suku Yali membentuk kampung-kampung kecil yang tersebar di daerah pegunungan tengah, di sekitar lembah raksasa Baliem. Namun, orang Yali juga terbagi-bagi menurut bahasa, dialek, dan budayanya, di antaranya Yali Mek dan Yali Mo.
Kisahnya, dulu sebagian orang Yali pergi meninggalkan kampung dan turun ke lembah. Mereka membuat kampung-kampung yang baru dan menetap di sana. Orang-orang inilah yang kemudian di sebut sebagai Suku Hubula
Perkawinan-Pernikahan
Dalam pernikahan, masyarakat suku Yali menggunakan wam (babi) sebagai maskawin. Namun sangat di sayangkan, budaya ini lambat laun mengalami pergeseran
Agama (Religy)
Didalam suku yali ini memiliki kepercayaanya mayoritas Kristen Protestan dan Khatolik.Namun ada sedikit yang beragama Animisme,Animatisme,Dinamisme, dan Totem.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari penjelasan-penjelasan di atas ialah bahwa kita harus bercermin pada masyarakat tradisional untuk menata hubungan kita dengan alam demi keberlanjutan hidup mahluk manusia. Masyarakat tradisional telah berhasil mewariskan bumi ini dalam keadaan tidak tercemar kepada kita diwaktu sekarang untuk memanfaatkannya dan menikmati kehidupan di atasnya.
Keberhasilan itu merupakan perwuju dan nyata dari ketaatan mereka terhadap nilai-nilai dan norma-norma serta sikap yang mereka kembangkan dalam kebudayaannya untuk menjaga dan melestarikan alam. Seringkali norma-norma dan nilai-nilai itu mereka samarkan dalam kepercayaan-kepercayaan yang mereka anut sehingga bagi kebanyakan orang di zaman modern ini menganggapnya tidak rasional dan bahkan kadangkala mencemohkannya. Meskipun demikian jangan lupa, bahwa strategi-strategi yang mereka gunakan untuk menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma yang berhubungan dengan pengaturan dan penjagaan terhadap keseimbangan hubungan mahluk manusia dengan ekosistem dalam rangka menyiapkan secara lestari kebutuhan manusia itu adalah sangat efektif.
B. Saran
Berbagai sumber daya alam yang dinikmati sekarang sesungguhnya merupakan bukti nyata keberhasilan masyarakat tradisional pada masa lampau untuk menjaga, melestarikan dan mewariskannya bagi kita di waktu sekarang. Persoalan bagi kita sekarang adalah mampukah kita untuk dapat berbuat hal yang sama bagi generasi mendatang?
Menurut hemat saya, bahwa kita yang hidup di zaman sekarang yang lebih rasional dapat menggunakan kemudahankemudahan teknologi informasi yang merupakan hasil kebudayaan modern untuk mensosialisasikan dan melaksanakan berbagai kebijakan lingkungan baik tingkat internasional, regional maupun lokal untuk memanfaatkan dan menata lingkungan secara lestari demi kepentingan kita di masa sekarang maupun bagi kepentingan generasi-generasi penerus kita di masa depan.
Saya percaya bahwa kita tidak akan mau kalah dari generasi-generasi pendahulu kita yang disebut masyarakat tradisional itu. Agar kita dapat berhasil mewariskan bumi kita ini sebagai tempat yang layak dihuni oleh generasi penerus kita, maka kita harus komit untuk saling mendukung dan bahu membahu dalam melaksanakan berbagai upaya pembangunan berkelanjutan secara transparan dan bertanggungjawab.
Daftar Pustaka/Sumber
Alamat Web//Blok.WWW.yalchomputra.com
Terima kasih..artikel ini sangat membantu dan bermanfaat
BalasHapus